PENGEMBANGAN KOMIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA PROGRAM PENDIDIKAN KEAKSARAAN DASAR (KD) PADA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT)

0
1308

Abstrak

Tujuan Pengembangan adalah 1) menambah wawasan dan pengetahuan mengenai media komik lebih khususnya sebagai media pembelajaran; 2) memfasilitasi pembelajaran keaksaraan dasar pda Komunitas Adat Terpencil (KAT) agar lebih terasa mudah dan menyenangkan; dan 3) memberikan pemahaman dan variasi cerita adat (sebagai tema) dalam komik sebagai media pembelajaran bagi peserta didik sehingga mudah dalam belajar CALISTUNG. Metode yang digunakan dalam pengembangan ini menggunakan model four – D oleh Thiagarajan dan Semmel (1974). Model pengembangan four – D terdiri atas 4 tahap utama yaitu 1) Define (pendefenisian), 2) Design (perancangan), 3) Develop (pengembangan), dan 4) Disseminate (penyebaran). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara,  observasi, dan studi dokumenter/studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam pengembangan komik kd kat ini menggunakan teknik campuran (mix methode), yakni penggabungan antara teknik kuantitatif dan teknik kualitatif. Hasil Pengembangan menunjukkan bahwa  1) pengembangan komik KD KAT dikembangkan dengan model four-D yang dilakukan melalui tahap yaitu Define, Design, Develop, dan Diseminate; 2) hasil pengembangan komik KD KAT yang dilakukan oleh ahli materi, ahli media, dan ahli bahasa menunjukkan bahwa skor rata-rata aspek materi adalah sebesar 4,26 yang dapat dikategorikan “Sangat Layak”, aspek media sebesar 3,56 yang dapat dikategorikan “Layak”, dan aspek bahasa sebesar 3,9 yang dapat dikategorikan “Layak”. Sedangkan respon peserta didik mengenai komik KD KAT menunjukkan bahwa skor rata-rata aspek materi sebesar 4,10 yang dapat dikategorikan “Sangat Layak”, aspek media sebesar 3,89 yang dapat dikategorikan “Layak”, dan aspek bahasa sebesar 4,25 yang dapat dikategorikan “Sangat Layak”.

LATAR BELAKANG

Penduduk  Indonesia  penyandang  buta aksara  pada tahun 2014 usia 15-59 tahun sebanyak 5.984.075 orang atau 3,70% (PDSP Kemdikbud, 2015). Dari sejumlah  penduduk  yang belum melek aksara itu, tergolong  pada usia produktif  antara 15-59 tahun, yang semestinya  menjadi sumber daya yang bermutu. Untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut tentunya perlu dilakukan bukan hanya pendidikan keaksaraan yang sekadar mendidik masyarakat mampu membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga pendidikan  keaksaraan  untuk pengembangan  kemampuan  individu  agar mampu mengatasi persoalan kehidupan melalui keaksaraan.

Hal itu, sejalan dengan kesepahaman masyarakat dunia tentang pengentasan buta aksara, yang dicurahkan dalam Deklarasi Persepolis yang melahirkan Hari Keaksaraan   Internasional   (International  Literacy Day).   Di  dalam deklarasi tersebut, dikandung makna untuk mendorong setiap negara selalu menaruh  perhatian  terhadap  pemberantasan  buta aksara dan rumusan konsep buta aksara sebagai sebuah jalan bagi meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Menyimak deklarasi  tersebut  menunjukkan, bahwa  membebaskan masyarakat  dari kebutaaksaraan  menjadi salah satu tujuan berdirinya suatu negara,  dan kehidupan  bernegara  sebagaimana  diisyaratkan  pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni menyerdaskan  kehidupan  bangsa. Dengan demikian, pendidikan keaksaraan selalu berhubungan  dengan arah, kebijakan dan  strategi pembangunan  negara yang tentunya  dalam penyelenggaraannya, tidak bisa dilepaskan dari tuntutan kebutuhan dan latar budaya peserta didik itu sendiri.

Penyelenggaraan dan pembelajaran keakaraan dasar (KD) khususnya pada Komunitas Adat Terpencil (KAT) memiliki karakteristik tersendiri, khususnya permasalahan pembelajaran pada peserta didik. Kadang peserta didik merasa bosan dalam belajar atau dalam memperhatikan pendidik menyampaikan materi pelajaran karena pesan atau materi pelajaran tidak dikemas semenarik mungkin bahkan hanya melalui ceramah, tulisan-tulisan di papan tulis dan dengan cara yang tidak efisien lainnya.

Saat ini, perkembangan media sangat pesat dan telah menjadi inovasi baru dalam dunia pendidikan. Tidak terkecuali bagi perkembangan media grafis. Media seperti ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran khususnya pada program pendidikan keaksaraan dasar. Media pembelajaran merupakan  salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik, karena melalui medialah pesan pembelajaran dapat disampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut. Untuk mewujudkan efektivitas dalam belajar dan mengajar maka harus memperhatikan bagaimana pesan pembelajaran tersebut dirancang agar siswa merasa tertarik untuk belajar.

Salah satu media hiburan yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat dijadikan sebagai media pembelajaran adalah komik, mungkin tak pernah kita sadari bahwa masa kecil kita tidak terlepas dari media visual yang satu ini. Kita dapat belajar banyak dalam komik yaitu belajar membaca, memahami cerita dengan cara visualisasi dan mengenal warna. Komik pun dapat digunakan sebagai media pembelajaran dalam dunia pendidikan karena komik dapat dirancang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Dalam hal ini komik berfungsi sebagai penyampai pesan pembelajaran dengan media visual yang dikemas semenarik mungkin agar siswa atau peserta didik lebih tertarik untuk belajar.

Komik merupakan salah satu media grafis yang digunakan dalam dunia pendidikan, berfungsi sebagai alat memperjelas materi, menciptakan nilai rasa lebih dalam memahami materi, menarik minat dan perhatian siswa, siswa merasa senang, membangkitkan rasa ingin tahu siswa, momotivasi siswa untuk belajar, dan lain-lain. Media kita perlukan juga untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. oleh karena itu peran komik dalam penyampaian pesan pembelajaran sangat diperlukan.

>> Download Artikel Lengkap “Pengembangan Komik Sebagai Media Pembelajaran Pendidikan Keaksaraan Dasar Pada Komunitas Adat Terpencil (KAT)”

>> Download Komik “Kebersamaan yang Hilang”

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR