BPPAUD DIKMAS NTB adalah unit penyelenggara teknis dari Kemendibud,  yang berperan aktif dalam mendukung pencapaian profil pelajar Pancasila melalui program dan tugas pokok fungsinya. Secara lebih detail, melalui tugas pokok pengembangan model pembelajaran bagi anak usia dini, pada tahun 2020 ini, tim pengembang PAUD merancang model pembelajaran yang mengusung tema pembelajaran melalui aksi bercerita (Story Acting) bagi anak usia dini.

Mengapa aksi bercerita? Dan bagaimana hal ini dapat memupuk profil awal pelajar Pancasila?

Aksi bercerita adalah implementasi aksi anak usia dini dalam menggambarkan realita yang dilihatnya selama ini dan dituangkan menjadi cerita yang diperankan. Terdapat dua elemen pada profil pelajar Pancasila yang akan didukung secara progresif oleh model pembelajaran aksi bercerita ini, yaitu nalar kritis dan kreatif. Pengembangan nalar kritis atau Critical Thinking seiring dengan apa yang disampaikan oleh Kohlberg (2008), menjadi penting dalam kaitannya dengan Pendidikan Karakter, karena akan mengkonstruksi nilai-nilai baik yang layak dan membutuhkan pemikiran logis/kognitif hingga menjadi karakter positif yang terbangun. Dalam implementasi aksi bercerita, pendidik PAUD akan berperan aktif sebagai fasilitator, dimana anak usia dini akan secara ‘bebas’ berperan sebagai karakter dalam cerita yang sudah dibuatnya sendiri. Pendidik akan menempatkan diri sebagai partner yang akan melakukan intervensi jika dibutuhkan, khususnya jika proses dramatisasi-cerita anak mulai tidak sesuai, dan akhirnya pendidik akan membimbing anak dalam menggali apa yang sudah dibelajarkan melalui story acting tersebut pada proses refleksi. Proses akhir inilah menjadi salah satu kunci membentuk profil pelajar Pancasila, karena akan merefleksikan kembali bagaimana anak memperoleh dan memproses cerita kreasi nya, hingga menganalisa bagian mana dari cerita yang layak ditampilkan dan anak dapat mengambil keputusan sederhana mengenai relevansi cerita yang ditampilkan dengan dunia nyata yang dihadapi. Hal ini terlihat jelas dalam proses ujicoba konseptual yang masih berlangsung, dimana salah satu anak menggambarkan virus corona sebagai, ‘monster yang menyeramkan, tapi kekuatan sabun lebih menyeramkan untuk virus corona, jadi mencuci tangan dengan sabun itu harus supaya monster corona hancur’. Sebuah gambaran nalar kritis dari anak usia dini terkait situasi yang mereka hadapi pada masa pandemi ini.

Aksi bercerita juga secara terang benderang akan mengembangkan daya kretivitas anak, sebagai salah satu elemen utama profil pelajar Pancasila. Karena dalam proses nya, story acting akan menunjukkan bagaimana anak usia dini menghasilkan gagasan atau ide mereka secara orisinal yang diperkuat dengan implementasi hasil karya dan tindakan yang orisinal. Namun, seperti teori yang digulirkan oleh Vygotsky (1967) terkait Zone of Proximal Development atau Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), dimana adanya pengalaman belajar anak usia dini dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa, dalam hal ini adalah pendidik, akan menghasilkan interaksi dan kolaborasi yang akan mengembangkan pola piker kreatif atau kreativitas. Dalam aksi bercerita yang diujicobakan, kreativitas anak usia dini tergambar jelas dari proses awal hingga akhir, dari mereka menentukan cerita apa yang akan dibuat, media atau alat apa yang akan digunakan sehingga mereka praktik ujicoba role play atau meng-aksi-kan naskah cerita secara sederhana .

Akhir kata, sebagai tim pengembang model PAUD, yang pada tahun ini mengambil tema ‘Aksi Bercerita’, kami harapkan dapat menjadi kontribusi awal untuk memupuk profil pelajar Pancasila sejak usia dini, sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan tuntutan perwujudan merdeka belajar bagi seluruh anak Indonesia.

#CerdasBerkarakter #ArtikelBerkarakter #DKTPenguatanKarakter

Sumber :

Nucci, L. P., & Narvaez, D. (2008). Handbook of Moral and Character Education. New York: Taylor & Francis.

Vygotsky, L. S. (1967). Play and its role in the mental development of the child. Soviet psychology, 5(3), 6-18.