BP-PAUD dan Dikmas NTB – Pengumuman Presiden Joko Widodo tentang kasus pertama Covid-19 (2/3/20) di Indonesia menjadi awal dari rentetan pristiwa dan kasus-kasus selanjutnya yang terjadi di seluruh wilayah negeri. Sontak pengumuman tersebut mementahkan asumsi liar yang berkembang di media massa yang mengatakan bahwa Indonesia kebal dari Virus Corona, Iklim di Indonesia tidak cocok dengan corona dan lain sebagainya. Publik pun mulai dihinggapi rasa was-was. Ketakutan-ketakutan semakin menumpuk seiring dengan beredarnya video dan gambar  yang mempertontonkan orang yang terpapar virus tersebut. Ada yang terkapar di jalanan, trotoar, di atas motor dan tempat-tempat lain yang pada umumnya mempertotontonkan kengerian layaknya Zombie pada film Box Office.

Perkembangan kasus virus ini semakin mendukung rasa takut dan kecemasan pada masyarakat. Dari hari ke hari, minggu dan bulan angka positif semakin bertambah. Korban nyawa pun berjatuhan walaupun jumlah kesembuhan juga terus meningkat. Kematian dan perpisahan anak dengan ibu, ayah, adik, kakak, sahabat serta orang-orang tercinta dengan cara yang tidak biasa. Tak ada keluarga dan handai taulan yang menunggu saat kematian itu datang. Terhitung semenjak masa karantina dan perawatan diberlakukan, korban harus menjalani masa-masa sulit itu sendirian tanpa orang-orang terkasih di sana. Bertahan hidup dengan segala aturan protokol penanganan Covid-19. Bagi yang selamat, sembuh itu seakan menjadi kehidupan kedua baginya. Namun bagi yang meninggal, itu telah menjadi kematian yang paling dramatis. Tiada untaian ayat-ayat suci yang dibacakan oleh orang-orang tercinta. Pun tidak ada tuntunan pembacaan kalimat syahadat agar si fulan pergi dengan sentuhan kalimat keberadaan Illahi dan Sang Nabi. Hingar bingar kehidupan dunia sekan telah hilang darinya jauh hari sebelum kematian menjemput. Dan tentunya tidak akan ada keluarga yang akan melihat air mata terakhir bergulir sebelum napas tercabut dari jasad, sungguh mengenaskan.

Seiring dengan peningkatan jumlah kasus positif Covid-19, permasalahan pelik lainnya pun semakin banyak. Mulai dari kelangkaan masker, APD, Hand Santizer, dan yang tidak kalah peliknya adalah terpukulnya dunia perdagangan dan industri. Pengangguran semakin bertambah dan angka kemiskinanpun meningkat. Teriakan masyarakat miskin semakin mewarnai kehidupun di media sosial dan kehidupan nyata. Lebih-lebih terindikasi ada kelompok yang memang sengaja atau tidak ikut berperan dalam menciptakan suasana mencekam dan keputus asaan yang kemudian berujung pada caci maki dan celaan yang di alamatkan pada pemerintah, baik daerah maupun Pemerintah Pusat.

Kehidupan seakan telah “berhenti” Kantor, sekolah, pabrik dan lembaga swasta serta tempat ibadah  harus berhenti sejenak. “Stay at home” kemudian menjadi slogan yang sangat familiar terus menerus disuarakan. Lock Down juga tidak kalah “indahnya” untuk diperdebatkan. Di saat itulah kontradiksi mulai terasa nyata di mana kita disuguhkan oleh pilihan pilihan yang sangat sulit ditentukan. Diam di rumah bagi yang sumber-sumber ekonomi keluarganya jelas, tentu bukan hal yang harus ditakuti. Namun bagi mereka yang mengais rejeki setiap hari untuk memenuhi perut buncit yang keroncongan, stay at home bukan pilihan yang rasional dan logis. Di sisi lain, memaksakan diri keluar bekerja pun bukan sesuatu yang bijak dilakukan saat virus terus meneror.

Saat itulah Pemerintah datang dengan beberapa jenis bantuan sosial yang pada prinsipnya untuk menekan permasalahan sosial ekonomi yang dihadapi masyrakat miskin. Mulai dari PKH, bansos, bantuan listrik sampai pada program relaksasi pinjaman. Dan tentunya segala jenis bantuan tersebut tak ayal telah menguras kas negara. Di sisi lain pemasukan negara dari pajak maupun non pajak sangat minim. Pemerintah melalui menteri keuangan kemudian mengambil langkah-langkah strategis yang mengakibatkan pemangkasan anggaran pembangunan pada sektor-sektor yang dianggap tidak urgen. Pemangkasan anggaran tersebut oleh sebagian kalangan adalah hal yang mutlak dilakukan. Di sinilah integritas berbangsa dan bernegara kita di uji dimana tentunya pemangkasan tersebut akan membuat kepentingan segelintir orang akan terganggu.

Social Distancing dan PSBB telah dilakukan untuk mengurai dan menimialisir penyebaran virus Corona. Dan kedua program tersebut belum mampu memenuhi ekspektasi masayarakat dan pemerintah dalam mengurangi angka penyebaran Covid-19. Malah dibeberapa tempat seperti Jawa Timur terjadi lonjakan yang cukup signifikan. Sampai tulisan ini dibuat, Jawa timur masih bertengger pada posisi kedua sebagai provinsi yang paling banyak terkonfirmasi positif Covid-19 yaitu pada angka 6,806 kasus. Sementara DKI masih menjadi provinsi terbanyak terkonfirmasi covid dengan angka 8.503 kasus. Pertanyaan besar kemudian muncul dipermukaan. Bagaimana nasib Indonesia ke depan bila Covid-19 terus berlanjut dan memakan korban jiwa dan harta? Akankah Negara ini mampu melepaskan diri dari pandemi yang telah memporak porandakan segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara kita?

Virus Corona masih merajalela hampir semua negara dunia tak lepas dari jerat Virus Corona. Dan benturan yang masing masing negara hadapi pun hampir sama, berkutat pada persoalan mempertahankan ekonomi dengan membiarkan aktifitas produksi berjalan normal di tengah ketakutan terhadap Virus Corona, atau fokus pada penanganan covid-19 dengan melakukan lock down atau sejenis. Pilihan tersebut membawa konsekuensi masing masing. Seakan telah menjadi unsolved problem yang memusingkan semua negara seantero jagat raya.

Live must go on ungkapan itu harus terus didengungkan ditengah keputusasaan dan kecemasan masyarakat dunia. Bagaimanapun sulitnya keadaan negara saat ini menghadapi covid-19. Kita harus tetap survive. Mengedepankan pemikiran positif dan meninggalkan pemikiran-pemikiran yang tidak konstruktif. Mengesampingkan asupan-asupan negatif tentang keberlangsungan hidup dan permasalahan yang dihadapi. Bergerak, bekerja sambil terus meningkatkan kewaspadaan terhadap segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Tidak mudah memang, tapi adakah cara lain selaian langkah itu?

New era, new hope Dua prase itu layak kita mulai pertimbangkan sebagai jalan tengah mengatasi kebuntuan pemecahan masalah kesehatan dan ekonomi yang harus dipaksakan bisa berjalan beriringan di saat pandemi. Hal tersebut sepintas tampak sangat mustahil dilakukan. Karena bencana yang sedang kita hadapi ini adalah bencana yang bisa dikatakan sebagai extra ordinary diseases. Tak terlihat namun daya bunuhnya luar biasa dahsyat. Namun, kemungkinan buruk lain akan terjadi bila faktor-faktor penggerak ekonomi tidak berjalan, tidak bergerak dan digerakan,  bencana kelaparan akan menambah deretan lukisan sejarah pergulatan bangsa-bangsa dunia. Penjarahan akan terjadi dimana-mana. Angka kriminalitas akan terus meningkat seiring dengan rasa egoisme dan individualisme manusia yang muncul kepermukaan, melabrak semua sendi-sendi etika, moral dan nilai kemanusiaan. Karena hidup harus terus berjalan dan diusahakan bagaimanapun caranya. Pilihanya tidak banyak, aku atau kalian yang “berangkat duluan”.

Kenormalan Baru ala BPPAUD dan Dikmas NTB

Di samping menyelaraskan berbagai jenis program dan anggaran dengan kondisi terkini yang ditimbulkan karena adanya Covid-19, BPPAUD dan Dikmas NTB pun berupaya menciptakan rasa tenang dan nyaman bagi karyawan maupun msayarakat yang masuk ke kantor dengan menyediakan berbagai jenis kebutuhan penunjang kesehatan. Adapun program yang diselaraskan yaitu diantaranya: Bimtek jarak jauh tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bimtek kesetaraan, E training dll.  Sementara itu, untuk menunjang prilaku hidup bersih dan sehat, BPPAUD dan Dikmas juga menyediakan: Hand sanitizer bagi karyawan, cairan disinfektan, wastafel, masker, bilik anti septik, vitamin penambah daya tahan tubuh dan lainnya.

Dengan menyediakan berbagai kebutuhan tersebut, pimpinan tertinggi BPPAUD dan Dikmas NTB berharap bahwa semua orang baik karyawan maupun masyarakat yang memasuki wilayah kantor yang berada di jalan Gajah Mada No 173 Jempong Baru kecamatan Sekarbela Mataram ini, wajib mentaati protokol kesehatan. Aturan tersebut tidak hanya disampaiakn secara lisan, tetapi juga melalui media sosialisasi; Banner, Baliho, Spanduk dan medsos.  SOP-nya jelas sebagaimana terpampang di depan gerbang kantor.

Wacana tentang pemberlakuan new era (Kenormalan Baru) oleh Pemerintah Pusat harus mulai dipersiapkan oleh semua instansi Pemerintah, baik daerah maupun Unit Pelaksana Teknis (UPT) kementerian yang ada di daerah. Karena itulah beberapa minggu belakangan, seiring dengan wacana kebijakan yang akan diterapkan pemerintah pusat, Kepala BPPAUD dan Dikmas NTB, Drs, Suka, M.Pd. semakin sering mengajak semua karyawan BPPAUD dan Dikmas untuk bersiap-siap menyambut kebijakan tersebut. Semoga pandemi segera berlalu, meninggalkan hikmah kepada semua ummat manusia tentang arti pentingnya menjaga kesehatan dan keselarasan dalam menjalankan kehidupan. Kesombongan dan kecongkakan semoga bergati dengan rasa rendah hati yang selanjutnya bermuara pada semakin mantabnya pengakuan eksistensi diri yang serba nisbi dan Tuhan yang hakiki.