BP-PAUD Dikmas NTB – Ketika orang tua telah mengetahui dan memahami karaktristik masing-masing anaknya, maka sesunguhnya orang tua secara tidak langsung telah mengetahui kunci kesuksesan dalam membangun komunikasi efektif dengan anak-anaknya di lingkungan keluarga.

Dapat dipastikan bahwa semua anak lahir, tumbuh, dan berkembang berawal dari lingkungan keluarga. Keluarga bagi anak menjadi tempat yang pertama dan utama memperoleh pengasuhan dan pendidikan. Dalam perspektif sosiologis kita dapat memastikan keluarga sebagai jembatan, menuju kehidupan sosial dan budaya yang lebih luas dan kompleks.

Melalui keluarga, anak belajar mengenal nilai-nilai, peran sosial, serta adat istiadat. Keluarga (terutama keluarga inti) memiliki peran yang sangat fundamental bagi tumbuh kembang anak dan berpengaruh sepanjang masa kehidupan anak.

Masa anak usia dini merupakan masa keemasan atau sering juga disebut dengan masa golden age, biasanya ditandai dengan adanya perubahan cepat dalam perkembangan fisik, kognitif, sosial, bahasa, dan emosional  pada fase ini anak sangat sensitif dan kritis.

Karena itu orang tua dan individu-individu dewasa di lingkungan anak harus mampu berperan sebagai pengasuh yang menstimulasi tumbuh kembang anak dan tentunya yang tidak boleh dilupakan, bahwa orang tua sumber belajar atau perantara mengenalkan nilai-nilai kehidupan baik moral, agama, sosial maupun kebudayaan.

Perkembangan anak sangat ditentukan oleh orang-orang terdekatnya (lingkungan keluarga), karena orang-orang terdekat menjadi daya lekat yang sangat kuat bagi anak, baik secara biologis, psikologis, maupun emosional. Figur dalam keluarga yang paling dekat dan memiliki daya lekat paling kuat dengan anak tentu saja orang tua yaitu ayah dan ibu. Ayah dan ibu menjadi model (the role model) bagi anak usia dini dalam bertutur kata dan berperilaku. Keutuhan suatu keluarga dalam kegiatan pengasuhan anak akan berdampak sangat positif bagi keseluruhan tumbuh kembang anak.

Keharmonisan hubungan (interaksi) antara ayah dan ibu, antara ayah dan anak, dan antara anak dengan ibu tentu akan berdampak positif terhadap tumbuh kembang anak.

Ini berarti orang tua  merupakan  bagian  yang  tidak  terpisahkan  dalam proses  pendidikan  anak di lingkungan keluarga.  Maka  dari  itulah, seyogyanya  orang tua  senantiasa memperkaya  diri  dan  merawat kedekatan diri  dengan anak-anak  mereka  melalui komunikasi  efektif, baik di waktu luang maupun di waktu sempit.

Apabila kedekatan tersebut tidak lagi terjaga, maka jangan salahkan anak, jika kemudian anak menjadi pribadi yang tertutup dan lebih terbuka untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahannya justru kepada orang lain.

Apa Itu Komunikasi Efektif?

Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Selain karena manusia adalah makhluk (sosial) yang membutuhkan orang lain untuk memenuhi segala kebutuhannya, komunikasi juga mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Memahami istilah komunikasi di atas, komunikasi dapat dikatakan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan secara sukarela oleh penerima pesan dapat meningkatkan kualitas hubungan antarpribadi dan tidak ada hambatan untuk hal itu (Hardjana dalam Suranto, 2011).

Kaitannya dengan membangun komunikasi efektif antara orang tua dan anak, maka dalam hal ini, orang tua terlebih dahulu perlu untuk mengetahui dan memahami karaktristik masing-masing anaknya. Sudah dapat dipastikan, bahwasannya setiap anak terlahir dengan membawa keunikan tersendiri dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dengan begitu, boleh jadi ada anak yang responsif untuk diajak berkomunikasi ketika di meja makan, atau bahkan tidak menutup kemungkinan ada juga anak yang terbuka untuk diajak berkomunikasi pada waktu menjelang tidur, sembari mendengarkan cerita

Bagimanapun cara yang di tempuh oleh orang tua dalam membangun komunikasi efektif dengan anaknya. Hal pokok yang perlu untuk dicermati terlebih dahulu yaitu bagaimana orang tua berusaha untuk mengetahui dan

memahami karaktristik masing-masing anaknya. Dengan begitu, maka sesunguhnya orang tua secara tidak langsung telah mengetahui kunci kesuksesan dalam membangun komunikasi efektif antara orang tua dengan  anak-anaknya.

Munculnya pemberitaan seputar perilaku negatif seorang ibu kandung yang tega membunuh anak nya sendiri, karena telah mengambil uangnya sejumlah lima puluh  ribu rupiah, sontak menjadi viral di media elektronik ahir-ahir ini. Betapa tidak, seorang ibu yang diharapkan dapat mengayomi anak-anaknya, justru berbalik menjadi makhluk menyeramkan dan ditakuti. Hanya karena permasalahan sepele, menjadikannya hilaf mata dan tega menyakiti buah hatinya sendiri yang telah di lahirkan dan dibesarkan dengan susah payah

Sungguh ironi dan menyedihkan tentunya. Satu sisi, kita sepakat untuk mengutuk perbuatan negatif tersebut sebagai suatu kejahatan yang kejam. Namun, disisi yang lain cerita pilu di atas menjadi contoh nyata bahwa, betapa berbahayanya dampak dari terputusnya komunikasi, khususnya komunikasi antara orang tua dan anak. Masalah kecil sekalipun akan cepat tersulut/merambah menjadi permasalahan besar bahkan berakhir pada perilaku buruk orang tua yang mudah ‘ringan tangan’ kepada anak-anaknya.

Penulis yakin, kejadian di atas tidak akan terjadi manakala, telah terbangun komunikasi efektif antara orang tua dan anak, karena sejatinya tidak ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan menggunakan akal sehat dan komunikasi yang efektif. Jangankan permasalahan kecil, permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyakpun, dapat di selesaiakan melalui komunikasi yeng baik dan efektif. tanpa perlu mengeluarkan “urat leher dan ringan tangan”.

Pentingnya Merawat Kedekatan Orang Tua dan Anak

Interaksi yang dibangun ayah dan ibu terhadap anak usia dini, tentunya sangat dipengaruhi oleh model komunikasi yang dikembangkan dan model komunikasi yang dikembangkan itu sangat dipengaruhi oleh model pengasuhan yang diterapkan orang tua pada anak usia dini. Komunikasi orang tua dan anak dikatakan efektif bila kedua belah pihak saling dekat, saling menyukai dan komunikasi di antara keduanya merupakan hal yang menyenangkan dan adanya keterbukaan sehingga tumbuh sikap percaya. Komunikasi yang efektif dilandasi adanya kepercayaan, keterbukaan, dan dukungan yang positif pada anak agar anak dapat menerima dengan baik apa yang disampaikan oleh orang tua (Rakhmat, 2011).

Dalam rangka membangun komunikasi efektif antara orang tua dan anak sejak dini, tentunya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan sebuah kerja sama dan komitmen kuat dari orang tua terlebih dahulu. Mengingat pada kenyatannya, sering kali orang tua justru menjadi penyebab gagalnya komunikasi efektif dengan anak. Hal ini dikarenakan sikap kontra produktif yang diterapkan oleh orang tua dengan apa yang diharapkan. Tidak sedikit orang tua menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi individu yang komunikatif dan bersikap terbuka, namun dalam praktiknya, justru orang tua sendiri yang tidak pandai untuk menghargai anak ketika berbicara.

Contoh sederhana misalnya, ketika orang tua meminta agar anaknya memberitahu kepada orang tuanya, apabila mau main ke luar rumah, sementara ketika orang tua pergi keluar rumah, dalam penerapannya justru tidak memberitahu perihal kepergiannya kepada sang anak. Pada contoh yang lain juga, misalnya ketika orang tua sering kali menuntut anak untuk mengucapkan salam ketika masuk atau keluar rumah, namun dalam praktiknya justru orang tua juga tidak menunjukkan prilaku yang sama dengan yang diharapkan kepada anak-anaknya.

Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh kontra produktif yang perlu untuk mendapat perhatian dari orang tua. Intinya bahwa keberhasilan sebuah komunikasi efektif yaitu apabila dilandasi oleh sikap keterbukaan antara orang tua dan anak, di samping itu diperlukan juga komitmen atau keteladanan terlebih dahulu dari orang tua.

Sudah banyak bukti nyata bahwa komunikasi efektif yang terbangun antara orag tua dan anak, menjadi benteng yang kokoh bagi keduanya dalam menangkal berbagai permasalahan yang sedang maupun yang akan dihadapai oleh anak. Begitu juga dengan fakta yang terjadi di tengah-tenagah masyarakat. Tidak sedikit kita jumpai atau bahkan alami langsung, kegagalan dalam membangun komunikasi efektif orang tua dan anak, menjadi penyebab munculnya permasalahan-permasalahan baru dilingkungan keluarga, bahkan melahirkan benih-benih kebencian yang berujung pada ketidakharmonisan hubungan antara orang tua dan anak.

Apalagi dalam hitungan hari kedepan, tepatnya pada tanggal 27 Juni 2018 masyarakat NTB khususnya dan Indonesia pada umumnya, akan menyongsong pesta demokrasi, untuk memilih calon Gubernur, Bupati dan Walikota secara serentak. Maka peran komunikasi efektif akan sangat penting untuk dapat meminimalisasi, permasalahan-permasalahan yang kemungkinan dapat mengikis keharmonisan di lingkungan keluarga. Boleh jadi pilihan orang tua berbeda dengan pilihan anak-anaknya, dan hal itu tentunya sah-sah saja. sebagai konsekwensi berdemokrasi. Namun, dengan terbangunnya komunikasi yang efektif tidak menutup kemungkinan dengan Perbedaan pilihan dilingkungan keluarga, bisa diramu menjadi cerita menarik dan dapat menjadikan anggota keluarga lebih dewasa dalam mensikapi perbedaan pilihan.

Oleh karena itulah sebelum terlambat menjadi orang tua yang komunikatif, sudah selayaknyalah menerapkan komunikasi efektif di lingkungan keluarga, sebagai pendekatan pertama dan utama dalam merawat dan membangun kedekatan yang positif antara orang tua dan anak sejak usia dini, sesuai dengan karaktristik dan usia tumbuh kembang anak. Semoga,.